Physical Performances For Nurse

nurse3

Physical dalam bahasa inggris yang berdasarkan kata physic yang berarti fisik. Performances berari penampilan. Jadi Physical Performances For Nurse berarti Penampilan Fisik Perawat. Penampilan Fisik yang dimaksud bukanlah bagaimana seharusnya seorang perawat berpakaian, berdandan atau sebagainya. Hal ini lebih membahas penampilan perawat pada saat berkomunikasi secara interpersonal dengan pasien. Mengapa hal ini yang saya bahas ? Sebagai seorang mahasiswa tingkat pertama yang belajar keperawatan menurut saya hal ini hal yang paling important dan yang menjadi basic dalam profesi keperawatan.

NursingPicturee

Mengapa penampilan perawat pada saat berkomunikasi interpersonal dengan client sangat diperlukan dalam profesi keperawatan? Banyak faktor yang mempengaruhi. Salah satunya yaitu agar client dapat merasa nyaman dan meletakkan rasa kepercayaan kepada kita selaku perawat dan client akan merasa lebih baikan dengan kita berikan penampilan yang terbaik.

Penampilan perawat dalam berkomunikasi interpersonal dengan client dapat dillihat dari 2 aspek yaitu dengan sikap fisik dan sikap psiko-sosial. Sikap fisik sangat diperlukan untuk mengubah persepsi pasien dan menaruh kepercayaan kepada perawat apa yang akan dilakukan pihak Rumah sakit tidak akan mengecewakannya.

tumblr_mlhh7yeg5p1s9a67go1_500
1. Sikap Fisik dalam Penampilan Perawat

Egan (1975, dikutip oleh Kozier dan Erb, 1983; 372) mengidentifikasi 5 sikap atau cara untuk menghadirkan diri secara fisik, yaitu:
a. Posisi berhadapan. Arti dari posisi ini adalah ”saya siap untuk anda”.
b. Kontak mata. Kontak mata pada level yang sama berarti menghargai klien dan menyatakan keinginan untuk tetap berkomunikasi.
c. Membungkuk kearah klien. Posisi ini menunjukkan keinginan untuk mengatakan atau mendengar sesuatu.
d. Sikap terbuka. Tidak melipat kaki atau tangan menunjukkan keterbukaan untuk berkomunikasi.
e. Relaks. Tetap dapat mengontrol keseimbangan antara ketegangan dan relaksasi dalam memberi respon terhadap klien.

index

2. Sikap psiko-sos

Dapat dibagi dalam 2 dimensi yaitu dimensi respon dan dimensi tindakan (Truax, Carkhoff dan Benerson, dikutip oleh Stuart dan Sundeen, 1987; 126).

A. Dimensi Respon

Dimensi respon terdiri dari respon perawat yang ikhlas, menghargai, empati dan konkrit. Dimensi respon sangat penting pada awal berhubungan dengan klien untuk membina hubungan saling percaya dan komunikasi yang terbuka. Respon ini harus terus dipertahankan sampai pada akhir hubungan.

a) Keikhlasan
Perawat menyatakan melalui keterbukaan, kejujuran, ketulusan dan berperan aktif dalam berhubungan demgan klien. Perawat berespon dengan tulus, tidak berpura-pura, mengekspresikan perasaan yang sebenarnya dan spontan.

care-23

b) Menghargai
Perawat menerima klien apa adanya. Sikap perawat harus tidak menghakimi, tidak mengkritik, tidak mengejek dan tidak menghina. Rasa menghargai dapat dikomunikasikan melalui: duduk diam bersama klien yang menangis, minta maaf atas hal yang tidak disukai klien dan menerima permintaan klien untuk tidak menanyakan pengalaman tertentu.

c) Empati
Empati merupakan kemampuan masuk dalam kehidupan klien agar dapat merasakan pikiran dan perasaannya. Perawat memandang melalui pandangan klien, merasakan melalui perasaan klien dan kemudian mengidentifikasi masalah klien serta membantu klien mengatasi masalah tersebut. Melalui penelitian, Mansfield (dikutip oleh Stuart dan Sundeen, 1987; 129) mengidentifikasi perilaku verbal dan non verbal yang menunjukkan tingkat empati yang tinggi sebagai berikut:
• Memperkenalkan diri kepada klien.
• Kepala dan badan membungkuk ke arah klien.
• Respon verbal terhadap pendapat klien, khususnya pada kekuatan dan sumber daya klien.
• Kontak mata dan berespon pada tanda non verbal klien misalnya nada suara, gelisah, ekspresi wajah.
• Tunjukkan perhatian, minat, kehangatan, melalui ekspresi wajah.
• Nada suara konsisten dengan ekspresi wajah dan respon verbal.

article-1102790-02e999e2000005dc-998_468x286

4. Konkrit
Perawat menggunakan terminologi yang spesifik, bukan yang abstrak. Hal ini perlu untuk menghindarkan keraguan dan ketidakjelasan. Ada 3 kegunaannya, yaitu:
• Mempertahankan respon perawat terhadap perasaan klien
• Memberi penjelasan yang akurat oleh perawat
• Mendorong klien memikirkan masalah yang spesifik.

B. Dimensi Tindakan

Dimensi tindakan tidak dapat dipisahkan dengan dimensi respon. Tindakan yang dilaksanakan harus dalam konteks kehangatan dan pengertian. Perawat senior sering segera masuk dimensi tindakan tanpa membina hubungan yang adekuat sesuai dengan dimensi respon. Dimensi respon membawa klien pada tingkat penilikan diri yang tinggi dan kemudian dilanjutkan dengan dimensi tindakan.
Dimensi tindakan terdiri dari konfrontasi, kesegeraan, keterbukaan, emotional chatarsis dan bermain peran (Stuart dan Sundeen, 1987; 131)

imagesbv

1. Konfrontasi.
Konfrontasi merupakan ekspresi perasaan perawat tentang perilaku klien ynag tidak sesuai. Carkhoff (dikutip oleh Stuart dan Sundeen, 1987; 131)

2. Segera
Kesegeraan berfokus pada interaksi dan hubungan perawat-klien saat ini. Perawat sensitif terhadap perasaan klien dan berkeinginan membantu dengan segera.

nurse_acronymn_card_customize_letter_meanings-rad20b8899d2643c8bcefa22f78402ab7_xvuat_8byvr_512

3. Terbukaan
Perawat harus terbuka memberikan informasi tentang dirinya, ideal diri, perasaan, sikap dan nilai yang dianutnya. Perawat membuka diri tentang pengalaman yang berguna untuk terapi klien. Tukar pengalaman ini memberi keuntungan pada klien untuk mendukung kerjasama dan memberi sokongan.
Melalui penelitian ditemukan bahwa peningkatan keterbukaan antara perawat-klien dapat menurunkan tingkat kecemasan perawat-klien (Johnson, dikutip oleh Stuart dan Sundeen, 1987; 134).

4. “Emotional Chatarsis”
Emotional chatarsis terjadi jika klien diminta bicara tentang hal yang sangat mengganggu dirinya. Ketakutan, perasaan dan pengalaman dibuka dan menjadi topik diskusi antara perawat-klien. Pengalaman Perawat dapat digunakan untuk terapi pada pasien.

5. Bermain Peran
Bermain peran adalah melakukan peran pada situasi tertentu. Hal ini berguna untuk meningkatkan kesadaran dalam berhubungan dan kemampuan melihat situasi dari pandangan orang lain. Bermain peran menjembatani anatara pikiran serta perilaku dan klien akan merasa bebas mempraktekkan perilaku baru pada lingkungan yang aman.

gfh

Referensi  :
Purba, Jenny Marlindawani. 2012.Komunikasi Dalam Keperawatan. (Online) http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3596/1/keperawatan-jenny.pdf
Putrianti, Tiara Tri. 2012. Tingkat Kepuasan Pasien Terhadap Penampilan Perawat Pada Saat Berkomunikasi Interpersonal Dengan Pasien Di Ruang Inap Bedah RSUD Gunung Jati Cirebon. http://jurnal.unpad.ac.id/ejournal/article/view/849

Iklan

Personality Iffa Fathimiyah

Perawat cerdas, Perawat berkualitas

PERSONALITY DEVELOPMENT GARNIS VITA PRATIWI

Good Attitude, Good Image, To Be a Good Nurse

PALMATUM

Surat dari daun yang pernah gugur dan selalu merindukan angka "0"

Keperawatan Religion Lis Heni Pujianti

Peran Perawat dalam Mencegah Aborsi

Kesiapan Menghadapi Tantangan

A guide to be a good and proud nurse on adversity quotient.

Personality Irma Mawarni Putri

Spiritual Intelligence

Personality Ade Rosi

Tata nilai perawat care, empaty, altruism

Positif Thinking and Act Now

Manage Your Mind for Real Success

Paradigma Psikologi Kepribadian Trait

Rencana adalah jembatan awal menuju impian, jika tidak membuat rencana berarti tidak memiliki pijakan langkah menuju apa yang kamu cita-citakan ;)

Keperawatan Religion Agung

Bimbingan Sakaratul Maut bagi Klien Muslim

Be A Good Muslim Nurse

"Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)

Tisa Mahdiansari

Kecerdasan Spiritual (SQ)

Personality Megawati

Paradigma Psikologi Kepribadian Cognitive dan Behavioristic

Religion Nursing

Asri Nurkarimah

Self Image in Nursing

Personality Rizky Maudina